15 Januari 2011

Diary Calon Guru: NIP Kamu Berapa?

Diary Calon Guru: NIP Kamu Berapa?

"NIP-mu berapa?"

"150.."

"wah.. itu mendingan, aku aja 200.."

Awalnya saya bingung juga denger perbincangan macam begitu. Setahu saya NIP (Nomor Induk Pegawai) untuk para guru itu diawali angka 130, 131, 132 dan sebagainya untuk edisi lama. Sedangkan untuk NIP yang baru memakai tahun lahir ybs dan berjumlah 18 digit dengan susunan sbb:

19750817 200904 1 001

*Penjelasan digit

  • digit ke 1-8, adalah tanggal lahir 17 agustus 1975 (ditulis: tahun-bln-tgl),
  • digit ke 9-14, adalah tanggal pengangkatan sebagai CPNS bulan April 2009 (ditulis terbalik tahun-bulan),
  • digit ke-15, adalah jenis kelamin (1 Laki-laki, 2 Perempuan),
  • digit ke 16-18, adalah nomor urut kepegawaian PNS

Nah, masa iya PNS guru lahir di tahun 150x atau 200x. Nggak mungkin kan?

Penasaran saya terjawab ketika tes PNS dilaksanakan. Jadi NIP yang berawalan 150 atau 200 itu adalah 'harga' NIP itu sendiri, bukan NIPnya..

150 berarti 150 juta dan 200 berarti 200 juta. Kira-kira begitu.

"Ah, kayak nggak tau jaman sekarang aja mbak!" komentar orang-orang di sekitar saya.

Lalu mau dikemanakan usaha saya dan teman-teman selama bertahun-tahun ini nantinya? sudah capek-capek kuliah, harus beli NIP juga?

oo.. Tidak bisa!

Sebenarnya ini masalah klasik dan sebuah rahasia umum. Tapi mau apa lagi, si pembeli punya uang dan si penjual punya NIP. Ya udah, apa yang menghalangi sebuah 'transaksi' jual beli?

paling-paling hanya serbuan sumpah serapah dan kutukan dari mereka-mereka yang tak punya uang sebanyak si pembeli.

Dan bukan masalah mudah menghilangkan praktek itu di masyarakat (bahkan mungkin mustahil, bangsa kita sudah berbudaya KKN!). Mereka yang punya uang tinggal pesan tempat dan mereka yang tidak tinggal pontang-panting kesana kemari membawa ijasah dan kemampuan, mencari tempat yang tidak melayani transaksi jual beli.

Saya jadi bertanya, orang yang 'beli NIP' macam itu, pahalanya sebagai guru sah nggak ya? ups, ini masalah berat. Urusan pahala, men!. Jadi begini, dalam pendapat saya (sekali lagi hanya pendapat!), guru yang memulai karier kepegawaiannya saja dengan cara yang tidak sportif, jalur belakang dan suap menyuap seperti itu kan toh tetap akan mendapat gaji. Nah, gaji yang mengalir tiap bulan itu bukankah 'dipondasi' oleh pondasi yang jelas-jelas salah?

Kalau saya sih, tentu lebih milih bisa jadi guru tanpa beli-beli segala kecuali beli amplop, kertas folio dan perangko untuk kirim lamaran. Selain tidak punya 'uang NIP', saya biarpun cuek dan sok teu begini juga masih takut sama Allah. udah deh, cari pendapatan yang halal-halal aja. Kalaupun sampai sekarang saya belum jadi guru (dalam arti mengajar di sekolahan), biarlah itu jadi semacam cita-cita untuk masa depan. Ceileh..:D

Well, tapi buktinya nggak semua tempat harus pake acara beli-beli an segala,kok! masih ada ladang pahala yang menjanjikan pahala 100 persen murni tanpa suap menyuap. And guess what? my brother has just proved it!

kakak saya, Hendra W Pribawa baru saja membuktikannya. Dan tulisan ini rasanya cukup bijak jika saya berikan untuknya sebagai kado ucapan selamat.. I'm gonna follow your way, brother!

Then you''ll leave this place to a new (and i hope it is better) place. I wish you have a greater live there (I''m sure you will) and your small happy family is just will be much better too in everything. What you've done really inspire me, brother.. have a nice trip, good bye and see you (maybe) at Lebaran?

*Tulisan ini saya persembahkan untuk mas Hendra W Pribawa, mbak Krisani dan keponakan saya yang imut abis!, Princess Viola Aeesha.. You've perfectly being a part of my family.. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Have something on mind? Just write it below.. :)