17 Mei 2011

SUATU HARI KETIKA MIMPIKU JADI NYATA :)


Senin, 16 Mei 2011

Jam 00.45 dini hari, dua HPku melakukan tugasnya dengan sangat baik: membangunkanku dengan lengkingan alarm-nya yang nyaring. Dan akupun kali ini sangat menuruti mereka, walau masih sangat mengantuk (karena baru tidur sekitar 3 jam), aku langsung bangun, mandi dan bersiap memulai hari jauh lebih awal dari biasanya.

Ibuku yang juga bangun untuk sholat malam berulang kali menanyaku, “Beneran nih berani?” katanya. “Iya buuuk, tenang aja” jawabku mantap. Maka sekitar jam 01.45, kupacu motorku membelah jalanan kota Ngawi yang masih sangat lengang, bahkan nyaris tidak ada kendaraan!. Sampai sekitar setengah perjalanan, tidak ada satupun kendaraan melintas bersamaan denganku. Ngawi masih benar-benar tidur! Keramaian baru kutemui di daerah Pasar Beran, beberapa pedagang sudah terlihat memulai aktivitas mereka menurunkan barang-barang dagangan yang kebanyakan berupa sayur-sayuran karena pasar ini memang biasanya buka sejak sebelum shubuh.

Tujuanku adalah penitipan sepeda motor di Terminal Lama. Alhamdulillah, penjaganya masih siaga (kadang walau ada papan ‘buka 24 jam’, petugasnya malah tertidur!), kutitipkan motorku dan segera menunggu teman-teman yang akan ikut bersamaku pergi ke Surabaya. Sekitar 15 menit berselang, 6 orang telah berkumpul dan kami bersama naik bus Mira ‘AC Tarip Biasa’ ke Surabaya sembari melihat kota demi kota yang baru bergeliat menyambut pagi. Surabaya, kami datang..

Tepat jam 6 pagi, bus yang membawa rombonganku tiba di Terminal Bungurasih-Surabaya (disebut pula Terminal Purabaya). Ada 2 anak yang lumayan ‘KO’ alias sempat muntah-muntah akibat perjalanan 4 jam Ngawi-Surabaya. Ah, tapi semangat mereka tidak luntur!. Kami harus menunggu 2 orang lagi yang akan bergabung bersama rombongan, mereka berdua adalah teman kuliahku: Aik dan Amel. Mereka sudah berangkat hari sebelumnya dan menginap dirumah kerabat Amel. Aku sempet ngomel-ngomel di telepon karena mereka berdua telat!. Hufh, both of you really made me angry cz of ur lateness, sisters! But you know I’ll never be able to stay on my anger. I was totally forgot it when we met.

Kami harus berganti bus, ketika masuk tempat pemberangkatan bus Kota, seperti biasa, puluhan orang menyerbu kami dengan pertanyaan yang sama “Mau kemana?”. Kami akan menuju terminal lainnya di Surabaya: Terminal Joyoboyo, jadi kami harus naik bus P6. Sumpah, bisnya jelek banget! Jauh lebih jelek daripada bus jurusan Cikarang-Pulogadung yang biasa kutumpangi ketika di Bekasi (yang menurutku sudah masuk standar ‘jelek’). Bangku-bangkunya banyak yang sudah tidak empuk lagi, gorden di jendela yang sebenarnya berwarna biru sudah menjadi agak kehitaman, body bus yang sebenarnya berwarna putih pun sudah pudar. Udah jelek, pake acara ngetem luama banget lagi! Hufh, Selamat datang di Surabaya!

Beberapa pedagang asongan dan pengamen telah menyelesaikan pekerjaan mereka diatas bus. Mulai dari pedagang kacang oven, permen jahe, ikat pinggang, cutton buds, dompet sampai buku Yasin dan Tahlil!“Beli buku Yasin yuk, Dek!” kataku pada salah seorang anggota rombongan“Buat apa, Mbak?” tanyanya“Ya kita kan bisa Yasinan dulu biar busnya cepet berangkat..” Jawabku

Mungkin karena kami memang tidak jadi membeli, bus itu tetaap saja berhenti dan tak kunjung berangkat sementara jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih. Surabaya, semoga tidak macet hari ini!

Ternyata harapan kami tidak terkabul. Surabaya macet! Walaupun macetnya tidak begitu parah, namun cukup untuk membuat laju bus menjadi lebih lambat dari seharusnya. Keuntungannya adalah kami bisa menikmati kota Surabaya lebih detail dan ‘santai’ (termasuk barisan sepeda motor yang memusingkan kepala, berpuluh-puluh motor berebut jalan, mirip di Bekasi dan beda sekali dengan di Ngawi), namun di sisi lain, sebuah acara di kampus Universitas Airlangga Surabaya telah menanti, kami tidak boleh telat!

Akhirnya kami sampai sekitar jam 8 di terminal Joyoboyo. Disana kami harus berganti angkutan. Menelusuri barisan berpuluh-puluh angkot yang berjajar rapi menunggu penumpang, kami mencari angkot yang bisa membawa kami ke kampus Unair. Ternyata adalah angkot line P (yang seketika penuh ketika kami ber-9 masuk). Kembali angkot yang kami tumpangi harus berjibaku dalam kemacetan. Aarrgghh.. bagaimana kalau kami telat? Oya, bahkan kami belum sempat sarapan!

Alhamdulillah, kami sampai di tempat sekitar pukul 08.45. Setelah menelepon salah seorang panitia, kami dijemput di pintu gerbang untuk kemudian ditunjukkan tempat acara akan berlangsung: Perpustakaan Unair. Kami adalah rombongan pertama yang datang, bahkan di daftar registrasi peserta aku menuliskan nama di urutan nomor 1!.

Tempat acara sudah disusun sedemikian rupa, satu set sofa dan meja di depan untuk pembicara, dan beberapa bangku diatas karpet sebagai tempat peserta lesehan. Jelas aku memilih bangku terdepan. Alhamdulillah kami masih bisa beristirahat sejenak karena acara belum dimulai.

Salah seorang panitia, Mbak Prapti, memperkenalkanku pada salah seorang pembicara: Sastri Bakry. Oh my God… untuk pertama kalinya aku bertemu dengan seorang Sastri Bakry!. Dan penyakit speechless tiba-tiba menyerangku di menit-menit pertama bertemu beliau, aku jadi bingung mau ngomong apa. Tapi yang jelas beliau orangnya menyenangkan, gampang akrab dan sangat bersahabat. Kesan pertama begitu mempesona! :D

Masalahnya adalah salah seorang anggota rombongan kami masih ‘KO’, aku harus mengantarnya mencari teh hangat yang katanya bisa mengurangi rasa mual. Ketika aku keluar, sekilas kulihat ada satu mobil masuk ke area Perpustakaan. Dan sepertinya aku mengenal siapa yang ada di mobil tersebut. Ah, tapi adik yang sedang bersamaku jauh lebih penting sekarang, tak apalah terlambat ikut acara, yang penting dia sembuh dulu. Aku meneruskan langkah keluar dan mencari penjual teh hangat terdekat.

Ku-sms Amel untuk memberitahuku jika acara telah dimulai. Langsung dibalasnya smsku dengan sebuah panggilan telepon. “Belum dimulai Mbak, tapi pembicaranya udah dateng” katanya singkat. Setelah minum teh hangat (tanpa makan), aku bergegas menggandeng adik yang masih belum baikan itu kembali ke ruang perpus. Dan ketika masuk..

Ternyata benar!

Orang yang paling ingin kutemui di acara itu terlihat sudah duduk manis di dekat bunda Sastri Bakry, mengenakan baju ungu dan jilbab senada yang sama dengan yang ada di beberapa fotonya di FB, dengan senyum mengembang yang sangat akrab dan wajah teduhnya. Allah.. itu dia orangnya! Orang yang ketika aku mendekatinya langsung berdiri dan membuka kedua tangannya, menyambutku hangat. Segera kucium tangan orang yang biasa kupanggil ‘Bunda’ itu dan memeluknya. Allah.. terima kasih atas kesempatan luar biasa itu!

Bukan hanya sekedar speechless, aku jadi salah tingkah, bingung sendiri mau ngapain. Pertemuan pertama, dengan orang yang begitu kuidolakan dan ingin kutemui, sungguh membuatku tak kuasa untuk bertindak banyak. Apalagi ketika anaknya dan 2 orang lain yang juga serombongan dengannya juga menyapaku. Sedikit mengalihkan perhatianku pada orang yang baru saja kupeluk itu. Walaupun sungguh kumasih ingin berinteraksi lebih lama dengannya, namun kuputuskan untuk mohon diri dan duduk di tempatku semula dan menatap idolaku itu dari jauh. Bukan karena tak mau ngobrol lebih jauh atau bagaimana, tapi karena memang sungguh aku mati gaya!

Dialah orang yang sms-sms nya selalu tak pernah rela kuhapus,Dialah orang yang walaupun sama sekali tidak pernah bertemu denganku sebelumnya namun begitu akrab padaku,

Dialah orang yang biasa memanggilku ‘Nak’, ‘Sayang’, ‘Dinda’, dan banyak lagi (dan itu membuatku semakin menyayanginya!),

Dialah orang yang suatu hari pernah membuatku menangis lamaaa sekali selepas sholat Dhuha karena kondisinya yang sedang tidak baik di Rumah Sakit,

Dialah orang yang selalu membalas sms-sms tak pentingku, walau kutahu dia amat sibuk,Dialah orang yang setiap membaca tulisannya aku akan menangis terharu sekaligus bangga,

Dialah perempuan hebat yang tak pernah lelah berbagi inspirasi dan cinta pada siapa saja, termasuk aku!

Dialah idolaku, orang yang paling ingin kupeluk dan itu baru saja terwujud!Dialah orang yang membuatku rela berangkat jauh-jauh dari Ngawi dan mengompori banyak orang untuk ikut serta hanya untuk bertemu dengannya!

Dialah orang yang seketika membuatku lupa akan bagaimana perjuangan mendapat ijin pergi ke Surabaya, lupa rasa lapar dan lelah, lupa rasa marah karena kemacetan, dan lupa bahwa mungkin saja aku tengah bermimpi. Antara percaya dan tidak, kutahu mimpiku telah menjadi nyata..Dialah Bundaku tersayang, Bunda Pipiet Senja.. :)

Bersambung..

*catatan : Di hari yang sama, mbakku juga mewujudkan mimpinya, mengikuti Wisuda Akbar Indonesia Menghafal di Jakarta. Congratz, Sista! :)

2 komentar:

  1. Naaaaaah, gitu dooong, aktifkan terus blognya, sayangku....

    sampai jumpa, mhuuuuaaa....luuuuv!

    BalasHapus
  2. iya bunda sayaangg.. nih mau jadi blogger aja sekarang, undur diri sbg facebooker. hehe..

    salam sayang.. luuuuv :)

    BalasHapus

Have something on mind? Just write it below.. :)